Gila! Mana ada
orang yang mau ngasih satu milyar rupiah begitu saja ke orang lain? Satu
milyar! Kalau ada, boleh dong ketemu dengannya…
Hari itu,
dimadinah tenang. Lengang menguasai kota. Senyap menyergap segenap penjurunya.
Tiba-tiba… debu tebal mendekati Madinah. Debu itu membumbung tinggi menutupi
angkasa. Angin yang bertiup membawa pusaran debu itu ke gerbang-gerbang
Madinah. Warga mngira, badai sedang mengancam pemukiman mereka. Dan sang badai
mengirimkan warta melalui debu pasirnya. Tapi… bukan badai yang muncul dari
luar sana. Malahan, terdengar hiruk pikuk suara dari gumpalannya. Subhanallah!
Ternyata itu adalah suara rombongan yang BESAR dan
paaaaannnjaaaaaaaaaaaangngngng…!
Bukan main. 700 unta penuh dengan beraneka barang! Warga pun geger. Berita pun cepat menyebar laksana aliran listrik yang mendapatkan penghantar. Banyak yang kemudian turut turun ke jalan, menyaksikan keramaian. Kafilah dagang dari mana pula ini?
“Apa yang
sedang terjadi di Madinah?” tanya Aisyah ra, sang ibunda orang-orang beriman.
“Kafilah
dagang Abdurrahman bin Auf datang dari Syam membawa barang dagangannya.”
“Satu kafilah
dagang menyebabkan kegaduhan seperti ini?”
“Ya, wahai
Ummul Mu’minin. Kafilah itu terdiri dari 700 unta penuh muatan.”
Wanita mulia
itu menggelengkan kepala. Ia pun berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah
bersabda, ‘Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”
Beberapa
sahabat yang mendengar perkataan itu, segera memberitahukan kepada Abdurrahman
bin Auf. Begitu mendengar hal tersebut, dengan bergegas, tanpa sempat
menurunkan muatan dari rombongan dagangnya, Ibnu Auf menemui ‘Aisyah ra.
“Ibunda mengingatkan saya kepada sabda Rasulullah SAW yang tak pernah saya
lupakan. Ketahuilah, Bunda. Semua kafilah dengan muatannya ini, saya
persembahkan untuk perjuangan di jalan Allah.” Allahu Akbar! Semoga Allah
melimpahkan barakahNya pada dirimu, keluargamu, dan hartamu wahai Abdurrahman!
Gila! Tak
hanya 1 milyar! Bahkan 700 unta penuh dengan muatan! Ah, jadi pingin ketemu
dengan orang-orang seperti putra Auf, Abdurrahman. Kini, dimanakah
Abdurrahman-Abdurrahman lainnya?
Diambil dari Fatan Fantastik






0 comments:
Post a Comment